Ilustrasi

Sambaskini.com, JAKARTA — Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko menuturkan perlu ada riset tentang pengujian polymerase chain reaction (PCR) Covid-19. Hal ini supaya hasil PCR bisa lebih cepat keluar. Inovasi alat rapid test juga dianggap cukup mendesak.

Handoko menuturkan pemerintah ingin mengejar target tes PCR sebanyak 1 persen dari populasi. “Jika populasi Jakarta 10 juta, maka 100 ribu yang di-PCR,” katanya Jumat (26/6). Namun saat ini kondisi tes PCR masih di bawah target tersebut.

Selain memperbanyak tes PCR, Handoko mengatakan kemampuannya juga harus ditingkatkan. Dia menjelaskan jika masyarakat melakukan tes PCR secara mandiri di rumah sakit, hasilnya baru keluar tiga atau empat hari.

Menurut Handoko, idealnya hasil tes PCR langsung keluar. Sebab jika masih harus menunggu tiga sampai empat hari, tracing-nya bisa lebih luas. “Kan tidak tahu selama tiga atau empat hari itu dia ketemu siapa saja,” jelasnya.

Selain itu Handoko mengatakan perlu ada inovasi untuk alat rapid test. “Kalau (hasil, Red) rapid test kan agak menipu,” jelasnya. Hasil negatif rapid test masih bisa membuat orang grogi. Sebab belum tentu benar-benar negatif dari Covid-19.

Kemudian jika ternyata hasil rapid test positif atau reaktif, kemungkinan virus sudah ada di tubuhnya selama tujuh hari terakhir. “Selama tujuh hari itu dia sudah bertemu siapa saja,” katanya. Dia mengatakan sistem rapid test saat ini adalah membaca antibodi atau imunitas. Handoko berharap ke depan rapid test benar-benar bisa membaca keberadaan virus corona dalam tubuh manusia. (why)

Sumber: Pontianak post