Ilustrasi

Sambaskini.com, JAKARTA ‐‐ Ekonom Indef Bhima Yudhistira menaksir konsumen rugi Rp247 miliar karena kelangkaan bawang putih pada Februari 2020.

Ia menyayangkan keterlambatan pemerintah dalam memastikan ketersediaan stok dan stabilisasi harga berbagai komoditas. Sebab, ini bukan kali pertama pemerintah gagal menjaga stok kebutuhan masyarakat di pasar.

“Kerugian konsumen akibat kelangkaan bawang putih pada Januari-Februari mencapai Rp200 miliar lebih, jadi kenapa aparat terlambat sekali menangani?” paparnya pada diskusi publik di Universitas Paramadina, Kamis (5/3).

Bhima merinci proyeksi kerugian itu menggunakan asumsi impor bawang putih sebesar 480 ribu ton dengan harga Rp50 ribu per kilogram (Kg) per 2 Februari hingga 14 Februari di wilayah DKI Jakarta, 

Ia menduga kekosongan stok di pasar terjadi karena keterlambatan pemerintah menangkap oknum penimbun yang bertujuan merusak harga di pasar. Sebab, dia menilai kelangkaan bawang putih telah terjadi sejak Januari, sebelum penyebaran wabah virus corona.

Keadaan serupa juga terjadi pada gula kristal putih. Meski izin terbit impor telah diteken Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, namun komoditas yang sudah terlanjur susah dicari tersebut berakibat pada tingginya harga di pasar.

Di kesempatan yang sama, Bhima menilai pemerintah juga terlambat dalam mengamankan pasar dari fenomena panic buying atau pembelian panik. Menurutnya, langkanya stok alat kesehatan seperti masker kesehatan dan hand sanitizer adalah respon masyarakat akan komunikasi tak efektif ala pemerintah.

“Komunikasi pemerintah ini agak tidak jelas, hari sebelumnya Menko Polhukam bilang tidak ada virus corona lalu besoknya (Presiden) mengumumkan ada 2 WNI positif jadi pasar meresponnya tidak wajar, irasional,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyatakan telah menerbitkan izin impor bawang putih sebanyak 25 ribu ton. Izin impor diberlakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencukupi pasokan hingga menjelang bulan puasa dan Lebaran 2020.

“Masyarakat jangan khawatir, sulit untuk ke luar rumah sehingga terjadi kepanikan dalam berbelanja bahan pokok. Namun, saya imbau agar masyarakat berhati-hati dalam mengambil sikap, termasuk untuk tidak melakukan panic buying,” kata Agus pada Rabu (4/3).(why)