Kondisi rumah warga yang terkena akibat abrasi pantai

Sambaskini.com, SAMBAS – Abrasi pantai kawasan Desa Tanah Hitam, Desa Matang Danau dan Desa Kalimantan, Kecamatan Paloh kian memprihatinkan.

Satu di antara warga Desa Tanah Hitam, Yadi mengungkapkan bahwa abrasi sudah menggusur bibir pantai sejauh 30 meter.

“Saat ini diperkirakan sudah terjadi abrasi sejauh 30 meter dalam dua tahun terakhir dan bibir pantai sekarang berjarak 3 meter dari badan jalan,” ungkapnya, Kamis (27/2).

Kondisi ini jelas mengkhawatirkan. Pasalnya jalan tersebut merupakan akses utama di kecamatan ini yang menghubungkan dengan kecamatan lainnya, bahkan ke negara Malaysia melalui pintu perbatasan Melano.

Yadi mengungkapkan bahwa selama ini tak ada bantuan pemerintah untuk mengatasi dampak akibat abrasi tersebut.

“Beberapa bangunan rumah warga sudah banyak yang rusak berat akibat terkena ombak karena abrasi semakin dekat. Sejauh ini belum ada bantuan pemerintah. Kami membuat sendiri penahan ombak yakni pasir yang dimasukkan ke dalam karung,” tukasnya.

Warga lainnya, Meji juga mengeluhkan keterlambatan penanganan dan antisipasi terjadinya abrasi di sepanjang pantai di Paloh.

“Abrasi pantai ini sudah lama terjadi kira-kira sekitar tahun 2017. Abrasi pantai ini terjadi pada saat musim gelombang kuat. Abrasi tiap tahun makin parah, menyebabkan dua bangunan rusak yaitu satu bangunan bengkel dan satu buah rumah,” katanya.

“Selain itu, pohon-pohon di tepi pantai juga tumbang akibat tanah penopang terus terkikis oleh air laut. Tebing pantai sudah mulai habis terkikis sehingga jarak antara pantai dan jalan sudah sangat dekat,” jelasnya.

Untuk meminimalisir dampak dari abrasi pantai yang terus-menerus itu, dirinya dan warga sekitar membangun penahan ombak dengan peralatan seadanya. Seperti menggunakan tumpukan karung pasir dan bahkan menggunakan kayu-kayu.

“Untuk saat ini hanya sedikit yang bisa dilakukan warga setempat untuk meminimalisir abrasi pantai dengan membangun penahan ombak sementara yang dibuat dari kayu dan dari tumpukan karung yang diisi dengan pasir,” jelasnya.

Penahan ombak itupun tidak berada di sepanjang pantai karena masyarakat hanya mampu membuat di sekitar bangunan yang rusak akibat abrasi.

Adakan Hearing 

Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Sambas, Lerry Kurniawan Figo mengatakan, pihaknya akan segera menggelar hearing bersama Instansi terkait guna mencari solusi permasalahan tersebut.

“Senin (2/3) nanti akan ada hearing bersama Instansi terkait dan lembaga serta masyarakat, terkait potensi bencana karena abrasi di pesisir pantai kita, khususnya Paloh, Jawai, Tangaran dan Pemangkat. Ini sudah lama kita bicarakan dan bahas, bahkan sudah kita masukan dalam perencanaan untuk ditanggulangi,” ungkapnya.

Hal ini juga sebagai tindak lanjut Perda tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana Sambas tahun 2020-2024.

“Dalam Perda tersebut daerah pesisir di atas masuk dalam lokasi rawan dan perlu ada aksi penanggulangan yang kompherensif untuk mengatasi hal tersebut,” papar Figo.

Figo pun mengungkapkan bahwa telah menyampaikan ancaman abrasi itu kepada  BPBD Provinsi dan BNPB pusat.

Namun, jawabannya harus ada status dari kepala daerah terkait bencana tersebut, baru bisa ditindaklanjuti penanganannya. Sedangkan dalam Perda peningkatan status tanggap darurat kepala daerah harus ada syarat administrasi yang berupa laporan tertulis dan kajian potensi.

“Oleh karena itu, dalam waktu dekat kami, Komisi I akan mengundang stakeholder, unsur masayarakat, kelompok peduli lingkungan, Pemdes dan dinas terkait untuk rapat hearing(dengar pendapat) membahas permasalahan ini,” ucapnya.

Disebabkan Tambang Pasir Ilegal

Aktivis Wahana Pelestarian Alam Nusantara, Andri mengatakan, penyebab abrasi di daerah tetsebut tak semata dikarenakan faktor alam, namun ada campur tangan manusia.

“Kami sudah menemui masyarakat setempat, melihat di lokasi. Dari sini kita mendapatkan informasi bahwa di daerah Pantai Tanah Hitam dan sekitarnya masih ada aktifitas penggalian pasir oleh masyarakat,” ungkapnya.

Setidaknya terdapat sembilan titik lokasi penambangan pasir di sepanjang pantai tersebut. Dia meyakini bahwa selain kondisi cuaca ekstrim, berkurangnya volume pasir di tepian pantai juga menyumbang sebab terjadinya abrasi.

Informasinya, ada sembilan titik penambangan pasir yang masih beraktifitas dan diduga kuat tidak mengantongi izin. (why)

Sumber: suarapemred