Awal 2020 : Pontianak dan Sambas Tertinggi Kejahatan Seksual

0
54
Ilustrasi

Sambaskini.com : PONTIANAK – Sepanjang Januari 2020, Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar menerima total 36 laporan, baik itu berupa pengaduan maupun non-pengaduan. Kota Pontianak dan Kabupaten Sambas menduduki posisi puncak kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati Ishaq mengatakan, laporan tersebut berasal dari masyarakat, antara lain terkait kejahatan seksual, kejahatan fisik, trafficking, gizi buruk, eksploitasi anak dan napza.

“Untuk kejahatan seksual di Kota Pontianak ada lima laporan dan Kabupaten Sambas juga lima laporan. Sementara untuk Kabupaten Kubu Raya, Kota Singkawang dan Kabupaten Sanggau dua laporan,” ungkap Eka saat konferensi pers pelaporan kasus anak di bulan Januari di Kantor KPPAD Kalbar, Jumat (31/1).

Ia melanjutkan, KPPAD Kalbar juga menerima masing-masing satu laporan kasus kejahatan seksual non pengaduan di Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu, Melawi dan Landak. Jadi sepanjang Januari 2020, total kejahatan seksual non pengaduan sebanyak 20 kasus anak yang terlapor dan didampingi.

“KPPAD Kalbar juga menerima kasus kekerasan fisik non pengaduan di Kota Pontianak sebanyak dua laporan dan di Kabupaten Kubu Raya sebanyak satu laporan. Jadi total kekerasan fisik non pengaduan ada tiga laporan,” ungkapnya.

Selain itu ada pula kasus trafficking (menjual anak), dimana pihaknya menerima satu laporan non pengaduan di Kota Pontianak dan dua laporan non pengaduan terkait gizi buruk di Kota Pontianak.

“Untuk kasus eksploitasi anak non pengaduan, KPPAD Kalbar menerima dua laporan. Kemudian terkait Napza ada satu laporan di Kota Pontianak dan satu laporan di Kabupaten Ketapang. Jadi total kasus non pengaduan yang terlaporkan di KPPAD Kalbar berjumlah 30 kasus,” jelasnya.

Sementara untuk pengaduan langsung secara resmi yang datang ke KPPAD sebanyak enam laporan. Diantaranya kejahatan seksual, dimana satu laporan di Kabupaten Kapuas Hulu.

Kemudian untuk kejahatan fisik ada dua laporan dari Kota Pontianak, satu laporan dari Kabupaten Sintang dan satu laporan dari Kabupaten Kubu Raya. Selanjutnya terkait penelantaran ekonomi satu laporan dari Kabupaten Kubu Raya.

“Total keseluruhan ada enam kasus pengaduan langsung yang diterima KPPAD Kalbar pada Januari 2020 ini,” katanya.

Eka menyebut, berdasarkan grafik pada 2018 hingga 2019, kasus terhadap anak terus meningkat. Sehingga saat ini KPPAD akan lebih menggencarkan sosialisasi dan pencegahan.

“Untuk 2020, KPPAD Kalbar akan meningkatkan sosialisasi, bukan hanya 50 persen tapi 70 persen untuk pencegahan. Bagaimana kita harus gencar ke daerah-daerah yang sangat rawan dengan kejahatan seksual, kita juga harus banyak bekerja sama dengan banyak pihak,” terangnya.

KPPAD di luar dari pendampingan, juga menggalakkan sosialisasi dalam kegiatan duta anti narkoba Kalbar.

Menurut Eka, laporan yang diterima KPPAD Kalbar bukan hanya yang datang resmi dari masyarakat, melainkan juga langsung menjemput bola di lapangan. Dia berharap semua pihak tidak meremehkan KPPAD yang terjun langsung ke lapangan.

Ia juga mengimbau masyarakat bisa memantau, mengawal serta menjadi pelapor dan pelopor agar tidak terjadi lagi kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak.

“Kami mohon kita semua bertanggung jawab terhadap anak yang ada di lingkungan kita sendiri,” pungkasnya. (why)