Ilustrasi Burhanudin A Rasyid Bupati Sambas Periode 2001- 2011

SambasKini.Com. SAMBAS: Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid merupakan bupati pertama Kabupaten Sambas selama dua periode (2001-2011). Kabupaten Sambas itu sendiri merupakan satu diantara hasil pemekaran dari Sambas Raya (Kab. Sambas, Kota Singkawang, Kab. Bengkayang). Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid yang biasa dikenal dengan Pak Ude lahir pada tanggal 3 November 1952 di Tebas, Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. Dari hasil perkawinan dengan H. Naskah Istar, beliau dikaruniai 3 orang anak. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Bupai Sambas, beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Sambas.

Sebelum menjabat sebagai Bupati Sambas selama dua periode, Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid yang merupakan lulusan dari Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1984 pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sambas (1991-2001).

Berangkat dari pribadi yang low profile, Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid berhasil dengan baik dalam membangun Kabupaten Sambas. Dan selama dua periode menjabat sebagai Bupati Sambas, beliau meraih sejumlah prestasi gemilang di berbagai bidang pembangunan, termasuk berhasil memasukkan program pembangunan jalan Negara dengan pembebasan lahan tanpa ganti rugi dan mendapatdukungan penuh dari masyarakat, sehingga model pembebasan lahan Kabupaten Sambas menjadi model percontohan Kementrian PU Republik Indonesia.

Impian terbesar beliau dalam masa jabatannya adalah merentas kawasan perbatasan Aruk (Kec. Sajingan Besar, Kab. Sambas) – Biawak (Sarawak, Malaysia), akhirnya membuahkan hasil dengan adanya Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) dan beberapa infrastruktur lainnya, walau dengan perjuangan yang sangat panjang. Beliau juga berhasil mengembalikan Jeruk Sambas yang mana lebih dikenal dengan Jeruk Pontianak dan menjadikan Kabupaten Sambas sebagai lumbung padinya Kalimantan Barat.

Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid mampu merealisasikan pembangunan di Bumi Serambi Mekah Sambas Terigas dalam program-program kerjanya dengan sangat baik. Dan selalu konsisten dalam membangun kawasan perbatasan.

Sebelum pemekaran, kawasan perbatasan di Kabupaten Sambas begitu terisolir apabila dibandingkan dengan kawasan perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau. Infrastruktur jalan sangat minim hingga alternatif untuk ke Kota Sambas melalui jalur sungai, jaringan telekomunikasi belum tersentuh sama sekali, pasokan listrik dari PLN belum ada sehingga menyebabkan banyak masyarakat yang tidak menikmati listrik tetapi hampir sebagian bergantung kepada Negara Malaysia dan ada juga menggunakan mesin genset.

Perjuangan panjang sang “Pahlawan Pembangunan” Bapak Burhanuddin A. Rasyid akhirnya mampu membangkitkan kawasan perbatasan dari keterisolasian dengan membangun Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB), membangun infrastruktur jalan, jaringan telekomunikasi dan penerangan bagi warga perbatasan. (Ran)