Sambaskini.com, SAMBAS — Disini saya tidak membela siapapun dan untuk yang dimanapun, hanya saja tulisan singkat ini saya utarakan untuk sedikit menilik cerita Viralnya Pengunduran diri masal perangkat desa salah satu desa dikecamatan Semparuk.

Dibalik kisah itu tentu saya pribadi timbul merasa sedih, terharu & khawatir terutama untuk perangkat desa yang secara terbuka dan secara sadar membuat pernyataan pengunduran diri dihadapan masyarakat ramai baik itu melalui desakan ataupun tidak itu bisa disimpulkan oleh netizen sekalian, tetapi yang perlu dipahami adalah. Kenapa hal itu bisa terjadi ? walaupun saya bukan seorang yang berprofesi sebagai perangkat desa tetapi saya banyak mendapatkan cerita-cerita dan pengalaman dari sahabat saya bagaimana menjadi seorang perangkat desa, pandangan masyarakat terhadap mereka dan banyak lagi hal-hal yang selalu ditujukan negatif kepada mereka.

Menjadi seorang abdi masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai perangkat desa akan selalu menjadi teropong setiap mata yang memandang terutama untuk masyrakat sekitar, gerak-gerik kehidupan secara pribadi selalu diawasi seakan-akan selalu ada mata mengintai setiap langkah. Tak jarang mereka ikut pusing ketika diisukan negatif, emosi memuncak sampai ahirnya hati juga yang meredakan panasnya. Seandainya jika bukan untuk pengabdian kepada desa sendiri mungkin takkan ada yang CARRAT berada dikursi panas itu, Baik sebagai kades atau pun perangkatnya karena sebagus apapun pelayanan, semanis apapun wajah ketika berhadapan dengan masyarakat bisa pudar ketika ada satu entah itu kesalahan atau kelalaian bahkan sebuah ketidaksengajaan yang dibuat baik secara lisan maupun perbuatan, tak lepas dari semua itu, mulut-mulut akan menambah dalam penyampaian hingga yang terdengar hanyalah sebuah fitnah yang tidak beralasan. Sampai pada ahirnya akan menjadi rumor dan isu yang sulit untuk di hilangkan.

Sebagai seorang yang mengabdi untuk desa tentu banyak memiliki beban yang di pikul, beban sebuah pertanggung jawaban kepada negara atas semua pekerjaan, beban kepada masyarakat, jika pekerjaan macet, jelek atau gagal. Tapi semua itu bisa dilakukan karna memang niat dalam hati ini membangun desa tercinta.

Berkerja dalam organisasi dalam sebuah struktur tentu mengacu dan berdasarkan pada undang-undang, dalam sebuah undang-undang memuat tentang poin-poin penting dalam sebuah pekerjaan, nilai, sampai dengan sebuah sanksi. Menilik sedikit tentang sebuah desa banyak sekali peraturan dan Undang-undang yang mengaturnya tentu itulah yang menjadi dasar para aparatur Desa dalam berkerja jadi tidak semau hati tidak seenak diri sendiri dan Dalam menentukan sebuah keputusan tentu melalui beberape mekanisme yang harus ditempuh.

Melihat hari ini berita viralnya 14 orang mengundurkan diri membuat saya merasa prihatin akan nasib sebuah desa, yang mana sebuah desa tentu memerlukan orang-orang yang mampu mengemban tugas sesuai dengan fungsinya. Misalnya pelayanan, bagaimana mungkin bisa melakukan pelayanan lagi ketika semuanya sudah berhenti. Nasib desa akan menjadi suram, bahkan tidak bisa berkerja sama sekali karena mesin penggeraknya sudah tidak ada. Jika terjadi hal demikian maka maasyarakat jugalah yang akan merasakan dampaknya, mulai dari tidak ada pelayanan, pembangunan dan lain-lain.

Proses pergantian aparatur desa tidak semudah yang kita bayangkan, tentu ada mekanisme, ada prosedur yang harus ditempuh ? Yang ada dalam fikiran kita tentu,Harus berapa lama desa tersebut menunggu ? Harus berapa lama agar bisa menjalankan roda pemerintahan kembali normal seperti biasanya. Setahun dua tahun atau tiga tahun kita tidak tau. Seandainya segera mungkin, akankah bisa aparatur desa yang baru menyesuaikan diri, apakah paham tentang sebuah keuangan desa, apakah paham tentang sebuah administrasi, laporan dan lain-lain dalam sebuah desa. Ini sama saja desa lama tapi rasa desa baru yang nantinya akan selalu didampingi dan harus didampingi desa terdekatnya atau lainnya sampai bisa mandiri dan berkerja sendiri.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyalahkan siapapun, tetapi bagaimana masyarakat kita agar bersikap lebih dewasa disaat semua teknologi dan informasi yang sudah terbuka seperti sekarang ini. Kita tak perlu mengedepankan emosional ketika kita hidup bermasyarakat, yang kita perlukan adalah sebuah musyawarah dan mufakat untuk mecapai tujuan itu.

Walau sampai saat ini saya belum tau permasalahan utama yang terjadi, entah isu Bla bla atau apa tetapi disini saya ingin mengajak kepada masyarakat untuk selalu mengedepankan musyawarah, tabayun dan klarifikasi kepada siapapun yang kita anggap itu salah agar proses pendewasaan demokrasi kita semakin baik. Dalam proses itu juga kita wajib tau aturan-aturan agar apa yang kita sampaikan tidak hanya berdasarkan asumsi pribadi, tetapi sudah berlandaskan aturan.

Pendapat siapapun wajib untuk kita dengar, pendapat siapapun wajib kita ikuti hanya saja harus sesuai dengan peraturan yang berlaku agar dalam keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan undang-undang.

Saya yakin dan percaya bahwa setiap desa berkerja selalu berdasarkan aturan yang ada agar selamat dari jeratan hukum. Untuk itu mari kita lebih dewasa bersikap, seandainya ada yang timpang dimasyarakat sebaiknya kita bermusyawarah, saling klarifikasi dan saling bahu membahu untuk menjadikan desa kita maju dalam hal demokrasi.

Kemajuan sebuah desa tentu dibarengi oleh dukungan semua masyarakat, tanpa itu semua apalah artinya.

Saya teringat dengan perkataan sahabat saya bahwa beban menjadi apatur desa beban terbesarnya adalah kepada masyarakat bukan kepada negara. Miskin di curigai, kaya di curigai. Dia berkata Ilmu yang harus dipakai ketika berprofesi sebagai perangkat desa atau apalah yang menyangkut dengan masyarakat banyak adalah Tabbal Mukke, Pampan telinge, Pajamkan mate & DIAM Karena kalau kita berdebat takkan menghasilkan solusi bagi mayarakat, bukan masyarakatnya yang kurang paham tetapi isu yang berkembang begitu cepat bahkan rumput ditepi jalan saja tau.

Buat seluruh perangkat desa Semangat..
Kalian Orang terpilih.

Semparuk, 10 Juni 2020 00:40
Riecko Ananda